Ahlan wa Sahlan...
Welcome...
Selamat datang di kampoeng hening....

*kampoeng yang sebenarnya tak hening:-)

Minggu, 16 Juni 2013

Pertemuan (5)

Arrijalu qawwamuna ‘ala annisa (Qur’an), bagaimanakah kita memahami ayat ini, karena jika dilihat dari terjemahan Indonesia maka ayat ini dipahami dengan “lelaki adalah pemimpin perempuan”, sedangan jika dilihat dari The holy Qur’an maka ayat ini dipahami sebagai “man protecs woman”, lelaki adalah pelindung.
Dalam dunia kepemimpinan, saya meyakini perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin yang efektif sama halnya dengan laki-laki. Pola suh dan budaya Indonesia memang mendidik anak perempuan dari kecil untuk mandiri dan dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri bahkan tak jarang juga melayani kebutuhan anggota keuarga yang lain. Dan anak lelaki biasanya dididik bahwa ia adalah raja dan harus dilayani, hal ini terkadang memberikan efek negatif lelaki menjadi tidak mandiri dan harus diberikan pelayananan apa yang dibutuhkannya. Namun tak jarang yang menjadi kelemahan kau hawa adalah dia menerima apa adanya dan memandang sesuatu dengan sederhana. Tak memiliki gambaran masa depan kecuali pengabdian terhadap suami dan keluarganya, hal ini yang terkadang membuat perempuan menjadi stagnan.

Perempuan dengan pola asuh semacam itu pada dasarnya juga memiliki modal untuk menjadi seorang pemimpin karena dia sudah terbiasa mandiri. Jika kita belajar dari sejarah mengenai kepahlawanan wanita jauh sebelum Kartini lahir, kita juga mengenal Tjut Njak Dien yang berjuang mengusi penjajah dari tanah Aceh bersama dengan suaminya Teuku mar. Bahkan setelah suaminya pergi, maka Tjut Njak lah yang memimpin masyarakat Aceh melawan penjajah meneruskan perjuangan suaminya. Kepemimpinan beliau dan juga strategi perangnya bahkan mampu membuat gusar para penjajah pada waktu itu.
Jadi jika kita melihat secara objektif bahwa perempuan juga bisa memiliki visi dan misi demi organisasi, perempuan juga memiliki kemampuan dan kriteria yang harus ada pada pemimpin, bahkan tak jarang perempuan berada di atas laki-laki kemampuannya maka kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin tentunya tak akan menjadi masalah selama bawahannya juga mendukung.
Ketika semua bawahan mendukung maka akan ada efektivitas organisasi dan perjalanan mencapai purpose juga akan lancar walaupun pemimpinnya perempuan, yang penting kemampuannya dalam memahami visi dan juga mengarahkan serta mempengaruhi bawahan adalah kemampuan yang baik dan harus ada pada diri seorang pemimpin. Sehingga peran gender tentunya tak akan masalah. Karena sebenarnya semua jenis pekerjaan dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan kecuali yang berkaitan dengan kodrat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar