Ahlan wa Sahlan...
Welcome...
Selamat datang di kampoeng hening....

*kampoeng yang sebenarnya tak hening:-)

Selasa, 19 Maret 2013

Pertemuan (2)


Pertemuan hari ini dimulai dengan mendiskusikan “Wise is a leader, a strategic leader”. Wise,,,kebijaksanaan memang selalu harus menjadi ciri pemimpin yang baik. Seorang pemimpin haruslah bijaksana. Apa sebenarnya makna dari bijaksana itu?. Apakah ia berkaitan dengan usia seseorang?. Apakah semakin tua kita, maka semakin bijaksana?. Seorang pemimpin yang bijaksana harus mengetahui apa resiko dari hal yang dilakukannya. Pokoknya memahami setiap kejadian dengan bijaksana, selalu memberikan solusi cerdas dan tepat.
Kita juga mendiskusikan bahwa akhir-akhir ini pembahasan kepemimpinan tak hanya sebatas kepemimpinan duniawi saja, namun bagaimana dari duniawi bergerak ke ukhrawi. Bagaimanapun sebagai orang beragama, pasti mengetahui bahwa akhirat itu ada. Bahkan katanya Abraham Maslow sendiri memiliki tingkatan need tertinggi, yaitu transendental. Hm,,,manusia pastilah pada suatu titik menyadari bahwa dirinya kecil dan ada Yang Lebih Besar yang menciptakannya. Masalahnya sekarang adalah terkadang kesadaran diri itu datang terlambat.
Berapa banyak pemimpin, seperti yang juga kita bahas dalam epos jawa, harus menyamar menjadi rakyat jelata untuk menemukan jati dirinya. Bagaimana ia mengenal dirinya untuk kemudian bisa mempengaruhi orang lain. Mengenli diri sebelum berhadapan dengan orang lain. Mengenali diri sebelum mengenali orang lain. Bahkan idealnya, semakin dewasa kita, semakin kita tidak membutuhkan petunjuk.
Ada sebuah Quote yang mengatakan “Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”. Demikianlah, dimulai dari mengenali diri, memahami apa yang ada dlam diri, istilah kerennya “Self Awareness”, maka seorang pemimpin akan menjadi pemimpin yang bijaksana.

Pertemuan kali ini juga ada presentasi dari dua kelompok. Kelompok pertama membahas mengenai buku The Leadership Chaallenge dan kelompok kedua membahas mengenai Authentic Leadership Development.
Pembahasan kelompok pertama menekankan mengenai visi. Bahwa visi itu penting demi keberlangsungan organisasi. Menurutku, purpose haruslah ideal dan visi adalah turunan dari purpose tersebut, lalu diturnkan lagi dalam langkah-langkah strategis berupa misi-misi yang dapat dilaksanakan pada tataran tekhnis. Namun aku sendiri tidak tahu apakah pemahamanku benar. Karena memang kita perlu seorang pemimpin yang visioner, yang punya pandangan jauh ke depan demi menjaga keberlangsungan organisasi. Diskusi berlanjut sampai mempertanyakan apakah presiden kita visioner?.
Kelompok kedua membahas mengenai Authenthic Leadership Development. Ini sedikit banyaknya mirip dengan pembahasan awal kami. Karena di dalamnya ada Self Awareness, dan bagaimana memahami diri snediri. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Apakah ada sesuatu yang otentik?. Atau ia nya hanya lah sesuatu yang merupkan inovasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Pembelajaran, pengalaman, masalah, itu yang akan membentuk jiwa kita. Modelling pasti ada, bagaimana kita melihat sejarah tokoh-tokoh pemimpin dunia yang berhasil. Bagaimana kita menyelami kehidupannya dan akhirnya hal tersebut terinternalisasi di dalam diri kita. Setiap orang pasti memiliki tokoh idola, bahkan seorang pemimpin pun punya pemimpin yang menjadi panutannya.
Ada pertanyaan yang muncul, bagaimana ALD dalam merumuskan strategi? Yah, semua kita menyadari bahwa strategi itu penting. Strategi dan taktik dalam menjalankan roda kepemimpinan dan organisasi untuk mencapai tujuan. Kadangkala menurutku hal itu yang kurang dimiliki pemimpin. Kebanyakan pemimpin saat ini adalah konseptor. Bicara dan memiliki visi misi yang filosofis, luar biasa namun terhalang ketika harus bicara masalah tekhnis atau lapangan. Padahal sejatinya, teori harus bisa diturunkan menjadi aplikasi di lapangan. Begitulah setidaknya menurutku, dalam menjalankan roda organisasi kita butuh konseptor, namun juga butuh eksekutor. Yang akan menjalankan konsep-konsep tersebut.
Maka dari itu sebagai seorang pemimpin harus menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya dan juga anggotanya. Karena jika ia mengetahui itu, maka akan mudah menutupi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki anggota lainnya ataupun memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki.
Pertemuan selanjutnya adalah Jum’at depan dan akan berlangsung dua sesi karena selasa depan adalah hari libur. Semangat,,, J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar